Rabu, 31 Oktober 2012

LEBAH DAN SEMUT



"Orang yang cerdik dan berakal ialah orang yang memperhitungkan keadaan dirinya dan suka beramal untuk mencari bekal sesudah matinya, sedangkan orang yang lemah (tidak cerdik) ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengharap-harapkan kemurahan Allah, yakni mengharap-harapkan kebahagiaan dan pengampunan di akhirat tanpa beramal shaleh." (H.R. Tirmidzi)

Kecerdikan seseorang tidak bisa kita ukur beegitu saja dengan menggunakan takaran nilai, begitupun kebalikannya, tidak bisa kita nilai oleh raga. Namun, kecerdikan dan kelemahan seseorang dinilai dari pemanfaatan waktu yang begitu singkat ini. Orang yang bisa memanfaatkan waktu yang amat singkat untuk bekal kehidupan, dia akan menjadi orang yang beruntung.


Alam memberi analogi pada kita dengan contoh perilaku dua hewan yang mempunyai sifat hampir sama dengan apa yang dimaksud oleh hadits di atas. Pertama, semut (an-Naml) yang selalu bekerja keras mengumpulkan makanan tanpa henti. mereka mengumpulkan makanan sebanyak mungkin, padahal makanan tersebut takkan bisa mereka habiskan sampai mereka mati, tetapi mereka tetap bekerja.


Kedua adalah lebah (an-Nahl) yang memiliki naluri yang dalam bahasa al-Qur'an disebut, "atas perintah Tuhannia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal." (Q.S. An-Nahl: 68). Lebah selalu menghitung keadaan dirinya, sehingga yang tidak bermanfaat bagi dirinya selalu ditinggalkan. Lebah juga binatang yang bisa memberikan manfaat bagi makhluk lain berupa madu yang dihasilkannya. Tak salah jika Rasulullah SAW pernah mengibaratkan seorang muslim itu seekor lebah. "Tidak makan kecuali yang baik-baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat, jika hinggap pada sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya." Itulah lebah.

Contoh perilaku kedua hewan di atas menjelaskan bahwa yang disebut orang yang cerdik itu ibarat lebah yang selalu memberikan manfaat bagi yang lain. Sedangkan contoh orang yang tidak cerdik diibaratkan seperti perilaku semut yang selalu menuruti hawa nafsunya. Apa yang dikumpulkannya tidak selalu beermanfaat bagi dirinya dan orang lain.sehingga mereka menjadi makhluk yang merugi.
Wallahu a'lam bishowab..

Selasa, 30 Oktober 2012

"MOTIVASI KEHIDUPAN: LAYANG-LAYANG"



Di sebuah taman kota, ada dua orang duduk di sebuah bangku panjang. Keduanya tampak akrab seakan mereka baru saja bertemu setelah berpisah lama. Sesekali terdengar tawa berderai di tengah percakapan yang mereka lakukan.

"Paman, ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku. Mengapa dulu kau berikan aku layang-layang saat ayah meninggal? Bukankah benda itu tak lazim diberikan sebagai tanda bela sungkawa? Sampai kini, aku masih memikirkan maksud pemberian itu. Sang Paman mendengarkan setiap kata yang disampaikannya dengan seksama. Matanya memandang wajah pemuda di depannya dengan sangat dalam.

"Jadi, kamu masih menyimpan layang-layangitu?". "Ya. Aku masih ingin tahu apa arti semua itu buatku. Aku kehilangan harapan setelah ayahku meninggal. Aku masih bersedih hingga saat ini, sebab orang yang kucinta tak lagi bersamaku. Ayah sangat berarti buatku. Seakan semua impianku hilang saat ayah meninggal." Jawab pemuda itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk bermain layang-layang, lalu mengapa paman memberikannya padaku?" Lanjut pemuda itu lagi. Mata sang Paman terus memandang wajah keponakannya itu lekat-lekat.
"Nak, kami juga bersedih saat kehilangan ayahmu. Namun janganlah kamu berputus asa. Layang-layang itu kuberikan padamu agar kau bisa menegakkan kepalamu saat bersedih. Pandanglah ke langit, tataplah ke angkasa. Layang-layang itu sebagai tanda bahwa akan selalu ada curahan kebahagiaan yang turun dari Allah. Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya seperti halnya impianmu. Tapi ingat, pegang erat benang di tanganmu agar tak kehilangan arah dalam menggapai hasratmu." Keduanya saling berpandangan. "Tataplah ke angkasa. Angkat kepalamu setiap kali kau merasa tak bahagia. Percayalah, selalu ada Allah yang akan mendengar setiap do'amu." "Terima kasih Paman. Aku akan mengingat semua ucapan Paman hari ini. Aku percaya, ayah juga akan mendengar."

Sahabat dan saudaraku, layang-layang dimainkan dengan kepala tegak, bukan menunduk. Layang-layang diterbangkan bukan dengan wajah ke arah bawah tapi dengan menatapnya ke angkasa. Ini adalah tanda agar kita selalu percaya bahwa optimisme dimulai dengan membangun harapan dukan dengan bersedih. Layang-layang bisa dijadikan contoh pengingat buat kita bahwa semangat baru akan hadir bagi mereka yang berfikir positif.

Terbangkanlah harapan-harapan kita setinggi-tingginya. Gapailah kasih sayang-Nya. Naikkanlah layang-layang impian kita hingga langit yang menjadi batasnya. Raihlah berkah dari-Nya, tegakkan kepala, pandanglah langit dengan sempurna. Percaya akan selalu ada harapan dari-Nya.

"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang ingkar". (Q.S. Yusuf:87).

Diadaptasi dari buku 'Kekuatan Cinta' (Irfan Toni Herlambang), diedit dan disunting kembali.
Sumber page: FP Cahaya Bulan

DUA HAL


Dua hal yang tidak akan kekal pada diri seseorang adalah masa muda dan kekuatannya
Dua hal yang tidak akan berubah pada diri seseorang adalah tabiat dan bentuk tubuhnya
Dua hal yang tidak akan besar bersamanya adalah akal dan amalnya
Dan manusia tidak akan malu terhadap dua hal yaitu mengisi perutnya dan kebutuhannya
Manusia itu selalu pada dua hal yaitu mencuri dan berkhianat
Adapun dua hal yang bermanfaat bagi setiap manusia adalah akhlak yang bagus dan jiwa yang toleran
Dua hal yang membahayakan bagi setiap manusia adalah iri pada orang yang memperoleh nikmat dan dengki terhadap orang yang berwibawa
Dua hal yang apabila bertambah atau berkurang akan berakibat buruk pada seseorang yaitu makanan dan minuman
Dua hal yang apabila bertambah tidak berbahaya tetapi apabila keduanya berkurang akan membawa dampak yang lebih baik yaitu membelanjakan harta untuk kemuliaan (sedekah) dan mengorbankan jiwa ke jalan Allah
Dua hal yang mendatangkan manfaat bagi manusia secara materi akan tetapi menimbulkan bahaya bagi banyak orang yaitu melindungi rahasia suatu profesi dan menyimpan atas keberhasilan suatu penelitian

Dua hal yang disukai manusia yaitu harta dan keindahan
Dua hal yang tidak disukai manusia yaitu kesewenang-wenangan dan kerusakan
Dua hal yang menyilaukan semua manusia yaitu hawa nafsu dan anak-anak
Dua hal dimana semua manusia khawatir terhadapnya yaitu kemiskinan dan kematian
Dua hal yang selalu dibuntuti oleh semua manusia yaitu halusinasi dan khayalan
Dua hal yang selalu dihindari oleh manusia yaitu penyakit dan kelaparan
Dua hal dimana manusia sangat suka melihatnya yaitu pahlawan dan pelawak
Dua hal yang selalu diharapkan manusia agar senantiasa ada dalam dirinya yaitu kesehatan dan kesenangan
Dua hal yang suka didengarkan manusia yaitu suara yang merdu dan berita yang menggembirakan
Dua hal yang semua manusia ingin mendapatkannya yaitu ketenaran dan pujian dari orang lain
Dan yang terakhir...
Dua hal yang kelak akan menjadi tempat akhir kehidupannya yaitu Surga atau Neraka
Semoga bermanfaat
Silahkan share
Renungan Ustadz Anwar Anshory Mahdum